Showing posts with label Wawancara. Show all posts
Showing posts with label Wawancara. Show all posts

Sunday, May 11, 2025

Praktik Wawancara Individu

         

        

Tema                           : Peran Ganda Ibu Rumah Tangga sebagai Pelaku Usaha Sampingan

Narasumber                 : Budhe Sri, Ibu Rumah Tangga dan Pelaku Usaha Rumahan

Tempat & Waktu         : Rumah Narasumber, 10 Mei 2025

Metode                        : Wawancara langsung (tatap muka)

Wawancara oleh          : Nur Laili Alfiyanti


    Dalam kehidupan rumah tangga, peran seorang ibu tidak hanya terbatas pada urusan dapur dan mengurus anak. Banyak ibu rumah tangga yang kini juga turut ambil bagian dalam menopang ekonomi keluarga, salah satunya adalah seorang ibu rumah tangga bernama Sri Hartini. Kerap disapa akrab dengan sebutan "Budhe Sri", beliau adalah seorang ibu rumah tangga berusia 47 tahun yang memiliki tiga orang anak. Di tengah kesibukannya mengurus keluarga, Budhe Sri juga aktif menjalankan berbagai usaha dari rumah, mulai dari membuat aneka snack hingga memasarkan produk herbal. Wawancara ini menggali kisah inspiratif beliau dalam membagi waktu, memulai usaha, hingga terus bertahan dalam bisnis rumahan yang telah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun.


Hasil Wawancara:

  1. Bisa Budhe ceritakan sedikit tentang keseharian Budhe sebagai seorang ibu rumah tangga?
    Keseharian saya sebagai ibu rumah tangga itu biasa seperti ibu-ibu yang lain. Menyiapkan sarapan, menyiapkan anak-anak untuk sekolah, bersih-bersih rumah, masak, ya seperti ibu rumah tangga pada umumnya.
  2. Apa yang mendorong Budhe untuk memulai bisnis sampingan di tengah kesibukan rumah tangga?
    Yang mendorong saya untuk berbisnis sampingan itu karena ingin membantu perekonomian keluarga, supaya kebutuhan keluarga bisa terpenuhi. Suami saya kan pekerja bangunan, penghasilannya tidak tetap karena tidak setiap hari ada pekerjaan. Saya mulai berbisnis sejak tahun 2004, jadi kurang lebih sudah 20 tahun.

  3. Jenis usaha apa saja yang Budhe jalankan saat ini?
    Untuk saat ini fokus ke snack kecil-kecilan, snack box, atau bolu dan perkuean. Kadang juga membuat jamu, memasarkan skincare dan obat-obatan herbal, tapi sekarang lebih fokus ke makanan dan minuman.

  4. Dari semua usaha yang Budhe lakukan, mana yang paling menghasilkan dan kenapa bisa?
    Yang paling menghasilkan ya dari snack itu. Omzet per hari tidak tentu juga karena pesanannya kadang banyak kadang sedikit. Tapi alhamdulillah tetap ada pemasukan setiap hari.

  5. Bagaimana Budhe membagi waktu antara mengurus rumah, anak-anak, dan menjalankan bisnis?
    Kita harus pintar-pintar membagi waktu. Kalau budhe itu setiap sebelum Subuh, sekitar jam setengah 3 sudah bangun dan mulai masak untuk snack. Terus pagi masak untuk sarapan anak-anak. Setelah anak-anak berangkat sekolah, saya seperti biasa bersih-bersih rumah, mencuci, dan lainnya. Biasanya kalau ada pesanan banyak, snack-nya mulai dibuat dari malam dan dilanjutkan paginya.

  6. Siapa saja yang biasanya membantu Budhe dalam menjalankan semua aktivitas ini?
    Tidak ada yang membantu, semua dikerjakan sendiri. Karena dua anak budhe yang besar sudah kerja semua, dan yang bungsu masih sekolah, jadi dikerjakan semua sendiri.

  7. Apa kendala paling sering Budhe hadapi dalam menjalankan bisnis dari rumah?
    Sebenarnya tidak ada kendala karena berjualan online. Untuk kendala seperti warung atau toko belum ada keinginan. Untuk pengantaran snack juga tidak ada masalah karena biasanya diambil langsung oleh customer.

  8. Bagaimana Budhe memasarkan produk-produk dari bisnis tersebut?
    Semua lewat HP, dari status WhatsApp dan Facebook. Tapi sekarang lebih fokus ke WhatsApp, Facebook-nya jarang dipakai. Biasanya pelanggan dari teman-teman atau kenalan.

  9. Apakah Budhe pernah merasa lelah atau ingin menyerah? Apa yang membuat Budhe tetap bertahan?
    Kalau lelah dan capek itu pasti, tapi yang membuat saya bertahan itu karena hasilnya menjanjikan dan pastinya bisa sangat membantu perekonomian keluarga.

  10. Dari mana Budhe mendapatkan inspirasi atau ide untuk produk-produk yang dijual?
    Awalnya cuma bikin-bikin dan dimakan sendiri, terus suka diposting di media sosial, ternyata banyak yang minat. Akhirnya mulai menerima pesanan dan dijual.

  11. Bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar terhadap usaha yang Budhe jalani?
    Tanggapannya bagus, mereka suka karena tidak perlu pesan snack jauh-jauh. Alhamdulillah semua suka makanannya. Selama berbisnis, tidak pernah dapat review buruk dari orang-orang atau customer.

  12. Apa pengalaman paling berkesan yang pernah Budhe alami selama menjalani bisnis ini?
    Yang paling berkesan itu saat punya orderan banyak. Memang melelahkan, tapi kalau pesanannya banyak, otomatis laba juga lebih banyak. Selain itu, kalau customer puas, saya juga ikut senang dan puas, apalagi mereka biasanya order lagi dan lagi.

  13. Bagaimana Budhe melihat peran ibu rumah tangga dalam ekonomi keluarga di masa sekarang?
    Menurut saya, sebaiknya ibu rumah tangga jangan hanya bergantung pada suami. Kita harus bisa bantu, walaupun hanya dari rumah, tapi kita bisa belajar berbisnis untuk membantu suami dan mencukupi kebutuhan dan keinginan kita sendiri.

  14. Apa saran Budhe untuk orang lain yang ingin memulai usaha tapi merasa ragu atau tidak percaya diri?
    Saran saya, coba dulu, jangan berhenti sebelum berhasil. Memang kalau memulai usaha itu kadang capek, kadang kesel, kadang sepi nggak ada pembeli, tapi jangan putus asa. Coba terus, insya Allah akan ada jalan dan kemudahan. Sebaiknya juga memulai bisnis sesuai skill masing-masing.

  15. Apa harapan dan rencana Budhe ke depan terhadap usaha yang Budhe jalani saat ini?
    Harapannya semoga bisa lebih maju lagi, punya peralatan lengkap untuk menunjang bisnis katering saya. Kalau semakin berkembang, saya ingin punya karyawan juga untuk membantu.


Foto Dokumentasi:
















Saturday, April 12, 2025

Menganalisis Wawancara Presiden Prabowo: Ketajaman Pertanyaan, Dinamika Jurnalis, dan Isu-isu Strategis bagi Masyarakat


Wawancara Presiden Prabowo Subianto dengan tujuh jurnalis senior dari berbagai media nasional menjadi salah satu momen penting dalam sejarah politik Indonesia. Sebagai presiden yang kini telah resmi menjabat sejak Oktober 2024, tayangan ini memberikan gambaran awal tentang arah kebijakan yang mulai dijalankan oleh Prabowo. Selain itu, wawancara tersebut membuka kesempatan bagi publik untuk menilai sejauh mana keterbukaan dan komitmen pemerintah baru terhadap isu-isu penting di tingkat nasional.

Menurut saya, cara para jurnalis menyusun pertanyaan untuk Presiden Prabowo cukup tajam dan mendalam, walaupun tetap disampaikan dengan hati-hati. Beberapa pertanyaan memang mencoba menggali lebih jauh, namun tidak sampai bersifat menyerang atau menekan langsung. Mereka tetap menjaga sikap yang sopan dan tidak terlalu konfrontatif. Misalnya, saat membahas revisi UU TNI, para jurnalis lebih banyak menanyakan pandangan umum Presiden Prabowo, tanpa benar-benar menyentuh kekhawatiran masyarakat soal kemungkinan perluasan peran militer di luar tugas pertahanan. Padahal, ini isu penting yang layak ditanyakan lebih dalam. Begitu juga saat topik kebijakan tarif Trump muncul, pertanyaannya lebih fokus pada bagaimana Prabowo akan merespons secara bijak, bukan pada dampaknya terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia. Kedua contoh ini menunjukkan bahwa sebagian pertanyaan masih terkesan aman dan belum cukup tajam. Hal ini bisa dimengerti karena wawancara berlangsung dalam suasana yang cukup resmi dan formal, namun masyarakat tetap membutuhkan pertanyaan yang lebih berani dan langsung ke pokok masalah, terutama soal isu-isu penting yang berdampak besar pada kehidupan rakyat dan jalannya demokrasi.

Menurut saya, kehadiran tujuh jurnalis dari berbagai media sebenarnya bisa menciptakan dinamika yang seru dan mendalam dalam wawancara. Tapi dalam tayangan tersebut, saya justru merasa interaksi antarjurnalis kurang terlihat. Setiap jurnalis seperti hanya fokus pada pertanyaannya sendiri, tanpa menanggapi atau melanjutkan dari pertanyaan sebelumnya. Akibatnya, beberapa topik terasa tidak dikembangkan lebih jauh dan hanya berhenti pada jawaban umum dari Presiden Prabowo. Saya tidak melihat adanya persaingan yang mencolok antarjurnalis, tapi juga tidak terlihat adanya kerja sama aktif yang bisa mendorong narasumber untuk lebih terbuka dan bertanggung jawab. Padahal, kalau para jurnalis saling mendukung dalam menggali isu, diskusi bisa jadi lebih kaya dan peran media sebagai pengontrol kekuasaan bisa lebih terasa.

Jika saya menjadi salah satu jurnalis dalam forum tersebut, saya akan mengajukan pertanyaan yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat, seperti tentang komitmen Prabowo terhadap perlindungan HAM dan kebebasan sipil, terutama terkait rencana perluasan peran TNI dalam ranah sipil. Misalnya: "Bagaimana Bapak memastikan bahwa perluasan peran TNI tidak akan mengancam kebebasan sipil masyarakat atau digunakan untuk mengekang kritik terhadap pemerintah?" Pertanyaan ini penting karena berdasarkan sejarah Indonesia, sering kali kekuatan militer yang terlalu besar justru berujung pada tindakan represi (penindasan atau pembatasan kebebasan). Oleh karena itu, transparansi (keterbukaan informasi) dan pembatasan kekuasaan sangat diperlukan agar demokrasi tetap terjaga.

Dari semua topik yang dibahas, saya menilai isu ketahanan pangan adalah yang paling relevan dan mendesak bagi masyarakat. Harga bahan pokok, akses terhadap makanan bergizi, dan kedaulatan petani lokal adalah hal-hal yang langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari rakyat. Dalam wawancara, Prabowo menyampaikan rencana besar untuk mencapai swasembada pangan, termasuk pembangunan lumbung pangan dan peningkatan produksi dalam negeri. Media punya tanggung jawab besar untuk terus mengawasi isu ini, termasuk memeriksa pelaksanaannya di lapangan, mendukung petani kecil, dan melihat dampak lingkungan dari proyek pangan besar. Jangan sampai rencana ambisius tersebut hanya menjadi janji politik tanpa ada hasil nyata yang menguntungkan rakyat.

Wawancara ini menjadi momen penting untuk menilai gaya komunikasi Presiden Prabowo sekaligus strategi media dalam menggali informasi. Namun masih terdapat ruang untuk kritik dan perbaikan, baik dari sisi ketajaman pertanyaan maupun dinamika antarjurnalis. Di tengah transisi politik ini, media diharapkan tidak hanya menjadi penyambung lidah kekuasaan, tetapi juga penjaga nurani publik.

 

Suara yang Menguatkan: Jejak Figur dalam Setiap Langkah

  “Ayo berangkat, jangan telat. Sukses nggak bisa datang sendiri, harus dijemput.”      Itulah kalimat pertama yang hampir selalu kudengar s...